Misteri apa yang ada
dibalik makam kembar? Apakah orang yang ada di dalam kuburan tersebut adalah
anak kembar? Atau hanya bentuk makamnya yang kembar? Begitu banyak pertanyaan
yang bisa diajukan ketika kita membicarakan makam kembar. Makam yang
dikeramatkan oleh orang-orang tak hanya masyarakat sekitar namun juga oleh
masyarakat diluar daerah tempat makam itu berada. Lokasi bersemayamnya dua
arwah itu terletak di desa Gamel, Plered, Cirebon provinsi Jawa Barat.
Keberadaannya yang terletak di tengah hutan, jauh dari pemukiman penduduk tak
menghalangi makam ini untuk dikeramatkan, justru karena letaknya yang jauh dari
penduduk membuat makam kembar kental akan aroma mistis.
Makam kembar Buyut Asup,
itulah sebutan untuk tempat tersebut. Medan yang terjal dan sulit dicapai
membuat pengunjung harus bersusah payah mencapai tempat ini. Meski harus
menempuh dua jam untuk naik ojek dan menelusuri jalan setapak areal pesawahan
tetap saja ini tak menghalangi niatan para pengunjung untuk berada di makam
kembar. Menurut cerita yang beredar, makam tersebut merupakan tempat
peristirahatan dua gadis cantik yang menjadi kembang desa pada masanya. Kedua
gadis tersebut terbunuh setelah sebelumnya diperkosa oleh pemuda yang konon kabarnya
telah ditolak cintanya oleh sang gadis. Sekitar tahun 1950 berawal dari
Nur’aeni dan Maemunah, nama kedua gadis malang tersebut menanam sayuran Lombok
(cabe) di pekarangan belakang rumah mereka. Datanglah sekitar delapan pemuda
yang menghampiri mereka dan salah satu dari mereka menyatakan cinta pada
Nur’aeni yang ternyata cinta pemuda tersebut ditolak dengan alasan bahwa
Nur’aeni telah memiliki calon suami. Begitu ditolak, sang pemuda beralih pada
Maemunah dan lagi-lagi cintanya bertepuk sebelah tangan dengan alasan yang
sama. Karena merasa gagal mendapatkan cinta sang pujaan hati maka pemuda
tersebut memperkosa kedua gadis ini dan diikuti oleh ketujuh temannya yang
lain. Setelah diperkosa secara bergiliran, kedua gadis ini tanpa daya pulang
dengah isak tangis dan rasa sakit yang mendalam. Orang tua kedua gadis ini mengusir
mereka dan mereka pergi ke hutan untuk mengasingkan diri dari rasa malu oleh
gunjingan masyarakat. Di tengah perjalanan keduanya mengalami pendarahan yang
hebat sampai akhirnya meninggal dunia dan dikuburkan di tengah hutan di kawasan
Gunung Sembung tersebut.
Entah berawal dari mana
dan oleh siapa makam ini tiba-tiba dianggap keramat dan menjadi tujuan para
pengunjung untuk memohon sesuatu. Kebanyakan para pengunjung makam kembar adalah
para wanita baik yang tua, paruh baya maupun yang masih muda. Mereka mengaku
dengan mendatangi makam tersebut mereka berharap mendapatkan kembali
keperawanan mereka. Para wanita ini mengaku ingin memuaskan pasangan maupun
calon pasangan mereka. Setiap malam Jum’at Legi dan Selasa Kliwon makam ini
ramai sekali dikunjungi para peziarah. Tak hanya kalangan ibu-ibu, bahkan
kebanyakan para pengunjungnya adalah wanita-wanita tuna susila. Mereka
berbondong-bondong membawa sesaji dan beberapa benda-benda untuk ritual. Entah
tradisi dari mana namun yang pasti makam keramat ini memiliki energi tersendiri
yang membuat para wanita yakin akan kekuatan “reparasi keperawanan” si makam
kembar tersebut.

